Senin, 04 Oktober 2010

6 Penyebab Kecelakaan Terbesar


Foto : Aditya Indra
Kamis, 30 September 2010 07:10 WIB     
Data PBB 5 tahun lalu menyebutkan, tingkat kematian di jalan raya dunia mencapai 1 juta orang per tahun. Dan lebih mengerikan bagi kita, tak kurang 85% di antaranya terjadi di negara berkembang. Indonesia sendiri ‘membuang’ 20 ribu nyawa per tahun di jalan raya, begitu menurut data kepolisian tahun 2009. 

Sayangnya, di negara kita belum ada penelitian ilmiah untuk mengkaji penyebab dari tiap kecelakaan. Alhasil pencegahan yang efektif pun sulit dilakukan. Untungnya beberapa negara maju meneliti penyebab setiap kecelakaan dan mempublikasikan pada masyarakat. 

Berikut ini adalah data dari NHTSA (National Highway Transportation Safety Board), yakni badan pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas keselamatan di jalan raya. Dan inilah 6 penyebab utama kecelakaan yang berakibat fatal. 

Peringkat disusun berdasarkan persentase kecelakaan yang diakibatkan hal tersebut, baik tunggal maupun gabungan. Saat sebuah kecelakaan disebabkan beberapa faktor, maka semua faktor itu akan diperhitungkan. 

Sebisa mungkin waspadalah kepada 6 hal di bawah ini, terutama saat melakukan perjalanan mudik bersama keluarga. 

 6. Cuaca 
Persentase fatalitas: 8% 

Ada 2 hal yang menyebabkan kecelakaan karena cuaca menjadi lebih fatal. Pertama adalah daya pandang yang lebih terbatas, dan kondisi cengkeraman ke jalan yang memburuk dibandingkan saat cuaca normal. 

Untuk Indonesia, tentu saja cuaca yang harus diwaspadai adalah ketika hujan deras. Kebiasaan menghidupkan lampu hazard  membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena membuat mata pengendara di belakang cepat lelah dan kepekaan terhadap lampu rem berkurang. 

Jika biasanya jarak aman berkendara adalah 2 detik terhadap mobil depan, saat hujan tambahlah menjadi minimal 3 detik. Pasalnya, kemampuan ban untuk menghentikan laju mobil berkurang drastis di atas jalan basah. 

5. Mengemudi agresif 
Persentase fatalitas: 10% 

Siapa saja yang dapat dikategorikan pengemudi agresif? Menurut NHTSA, pengemudi agresid adalah mereka yang mengemudikan mobil dengan egois, melewati batas kemampuan pribadi maupun mobil, tak memperdulikan peraturan dan keselamatan serta ceroboh. 

Sedangkan aksi-aksi agresif yang tercatat sering menimbulkan kecelakaan fatal adalah membuntuti mobil terlalu dekat, menyerobot lampu lalu lintas, berpindah jalur terlalu sering, memepet pengemudi lain, serta mengerem mendadak. 

Cara untuk mengatasi hal ini kembali pada diri kita masing-masing. Selama egoisme masih dipertahankan, selama itu pula kita menempatkan diri pada bahaya lebih besar. Bersikap positive thinking,  rendah hati, serta berangkat tepat waktu, dipercaya dapat meningkatkan ketenangan kita di jalan. 

4. Kecepatan 
Persentase fatalitas: 21% 

Kecepatan mobil saat terjadi kecelakaan berkontribusi besar terhadap kuatnya gaya impak yang diterima mobil dan penumpangnya. Semakin besar gaya impak, mobil akan semakin remuk dan tubuh kita semakin rentan mengalami cedera luar maupun dalam. 

Menurut penelitian NHTSA yang kerap melakukan crash test,  bila kita menaikkan kecepatan dari 80 km/jam ke 120 km/jam saja, energi yang menimpa tubuh kita saat kecelakaan bertambah lebih dari 2 kali. 

Selain itu, kecepatan tinggi akan mengurangi waktu yang kita miliki untuk menghindari kecelakaan atau mengerem. Begitu pula dengan rem dan ban yang harus bekerja lebih keras dalam melambatkan mobil. 

Untuk itu, jangan melewati batas kecepatan maksimum, dan perhatikan keadaan sekeliling Anda. Menyetarakan kecepatan dengan pengendara lain di sekitar kita juga meminimalkan risiko kecelakaan fatal. 

3. Pengaruh alkohol atau obat-obatan 
Persentase fatalitas: 30% 

Menenggak alkohol atau mengkonsumsi obat-obatan dalam dosis berlebih sama saja dengan menghilangkan sebagian besar dari kemampuan otak kita. Pengemudi dalam pengaruh alkohol akan mengalami kemunduran drastis dalam hal reaksi, perhitungan manuver, kepekaan pada kecepatan, serta kehalusan sensor motorik. 

Melemahnya fungsi otak inilah yang membuat pengemudi mabuk seakan tidak memiliki rasa takut atau khawatir akan keselamatannya di jalan raya. Belum lagi, kondisi ini juga memudahkan emosi untuk terpancing, yang akan menambah faktor bahaya lebih besar lagi. 

Di Amerika, tak kurang 30% kecelakaan fatal disebabkan pengemudi mabuk. Tapi pada saat weekend,  persentase ini meningkat hingga 53%. Wajar bila menilik konsumsi alkohol masyarakat meningkat pada Sabtu malam. Meski penenggak alkohol di Indonesia tak sebanyak negeri Paman Sam, tapi faktor penyebab kecelakaan satu ini tetap tak boleh diabaikan. 

Selain alkohol, Anda juga mesti mewaspadai obat yang menimbulkan rasa kantuk seperti obat untuk flu atau batuk. Tidak setetespun boleh Anda konsumsi jika hendak mengemudi, karena reaksi kantuk setiap orang akan berbeda terhadap masing-masing obat. 

2. Lelah dan mengantuk 
Persentase fatalitas: 45% 

Kedua faktor ini memiliki efek mirip dengan mabuk. Tapi dinilai lebih berbahaya karena lelah dan mengantuk ini bisa datang tanpa diduga dan bisa menimpa semua orang. Berbeda dengan mabuk, karena palakunya sadar ketika hendak minum. 

Ciri-ciri kelelahan bisa dideteksi dari beberapa hal seperti mata berat dan sering menutup lama, penglihatan sulit fokus, sering menguap, gelisah, mobil berpindah jalur tanpa dikehendaki, atau sulit berkonsentrasi penuh ke jalan. 

Penyebab utama kelelahan adalah mengemudi di luar jam biologis atau mengemudi jarak jauh usai kerja di kantor. Bila Anda hendak melakukan perjalanan mudik di luar jam biologis, dari beberapa hari sebelumnya biasakanlah untuk sedikit memutar jam biologis dan terjaga di jam yang sama dengan saat mengemudi nanti. Dan paling aman adalah membawa serta pengemudi pengganti yang layak. 

1. Gangguan (distraction) 
Persentase fatalitas: 55% 

Inilah pembunuh nomor satu. Lebih dari setengah kecelakaan fatal yang terjadi disebabkan oleh konsentrasi pengemudi tidak 100% ke jalan raya namun terganggu oleh hal lainnya. 

Gangguan bisa timbul dari dalam dan luar mobil. Jenis gangguan yang terdata sering menyebabkan kecelakaan di Amerika adalah menelepon atau SMS, mengalihkan mata ke arah selain jalan, mengatur audio, mengurusi anak di mobil, serta membaca koran atau dokumen. 

Gangguan juga bisa diakibatkan oleh faktor psikologis yang menyebabkan pikiran kita tak bisa konsentrasi penuh ke jalan. Faktor psikologis yang bisa memengaruhi seperti masalah pribadi, trauma yang baru saja dialami di jalan baik terhadap pengendara lain maupun aparat, panik karena suatu hal atau terlambat hadir ke sebuah janji penting. 

Cara mengatasi pembunuh nomor satu ini sebetulnya gampang diucapkan meski susah diterapkan. Curahkan 100% perhatian, pandangan dan konsentrasi pada aktivitas mengemudi. Atau ingat saja motto ini, “Good Driver, Just Drive.” 

Penulis : we are adventure boys

Tidak ada komentar:

Posting Komentar